Rabu, 24 April 2013

SEJARAH & MANFAAT COKLAT


Cokelat adalah sebutan untuk hasil olahan makanan atau minuman dari biji kakao (Theobroma cacao).[1] Cokelat pertama kali dikonsumsi oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman.[1]

Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Dengan bentuk, corak, dan rasa yang unik, cokelat sering digunakan sebagai ungkapan terima kasih, simpati, atau perhatian bahkan sebagai pernyataan cinta. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia, selain sebagai cokelat batangan yang paling umum dikonsumsi, cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin.
 
Sejarah Cokelat
Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat “cokelat” di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM[2]. Residu yang diperoleh dari tangki-tangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat pada biji kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol.

Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Río Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun 400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon “kakawa” yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocolātl yang berarti minuman pahit. Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun, tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun tak sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter) namun kadang-kadang ditambahkan juga busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat. Biji dari pohon kakao ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Diperkirakan kebiasaan minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin disebabkan dari kandungan theobromin di dalamnya.

Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec, biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa (sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa merupakan “makanan para dewa” (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.
Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai mata uang[3]. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah alpukat seharga tiga biji kokoa[4].

Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.

Di awal abad ke-17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di istana Spanyol. Sepanjang abad itu, cokelat menyebar di antara kaum elit Eropa, kemudian lewat proses yang demokratis harganya menjadi cukup murah, dan pada akhir abad itu menjadi minuman yang dinikmati oleh kelas pedagang. Kira-kira 100 tahun setelah kedatangannya di Eropa, begitu terkenalnya cokelat di London, sampai didirikan “rumah cokelat” untuk menyimpan persediaan cokelat, dimulai di rumah-rumah kopi. Rumah cokelat pertama dibuka pada 1657.

Pada tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane, mengembangkan sejenis minuman susu cokelat di Jamaika dan awalnya diminum oleh suku apothekari, namun minuman ini kemudian dijual oleh Cadbury bersaudara[5].

Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada 1847 ditemukan cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-rempah yang ditambahkan oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus, hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis.

Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang digunakan suku Maya dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di dalam mesin industri. Biji kokoa masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang, dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat diemulsikan dengan karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air (dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus (conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate).

Kandungan cokelat

Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida, yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan cokelat yang dimakan dalam jumlah normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah[6] . Cokelat hitam akhir-akhir ini banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannya yang dapat mengurangi pembentukan radikal bebas dalam tubuh.


MANFAAT COKLAT

[7]Apakah Anda seorang pecinta cokelat? Kabar baik bagi para 'pecandu' cokelat. Sebuah penelitian menemukan, orang yang mengonsumsi cokelat mengalami penurunan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 37 persen dan 29 persen memiliki risiko lebih rendah mengalami serangan stroke dibandingkan mereka yang mengonsumsi cokelat lebih sedikit.

Meskipun ahli menyarankan mengonsumsi cokelat dalam jumlah moderat, karena tingginya kalori dalam cokelat, namun tak dapat disangkal, cokelat juga menyuntikkan manfaat bagi kesehatan. Berbagai penelitian mengungkap cokelat hitam memiliki antioksidan yang mencegah berbagai penyakit. Berikut lima manfaat cokelat, seperti dikutip dari Shine.

1.      Cokelat membantu memecahkan matematika
Masih berhubungan dengan sirkulasi darah dalam tubuh, makan cokelat akhirnya juga bisa membuat Anda lebih sadar dan waspada. Sehingga ketika Anda mengerjakan sesuatu, Anda lebih bisa berkonsentrasi.
Flavonol, senyawa dalam cokelat adalah antioksidan yang diperkirakan meningkatkan sirkulasi, termasuk aliran darah ke otak. Sebuah studi 2009, peserta yang minum cokelat dengan flavonol menghitung mundur tiga angka dari 800-900 lebih cepat ketimbang mereka yang tak mengasup cokelat.

2.      Cokelat mengenyangkan
Para ibu selalu memperingatkan agar jangan makan cokelat sebelum makan malam. Dan, mereka benar. Peneliti Denmark menemukan, orang yang makan cokelat hitam sebelum makan mengasup kalori 15 persen lebih sedikit dan tidak tergoda makanan berlemak ketimbang mereka yang tidak makan cokelat. Cokelat hitam mengandung serat tinggi sehingga membuat Anda lebih kenyang saat memakannya. Makan cokelat hitam pun mampu menurunkan kebiasaan Anda ngemil makanan manis, asin, dan berlemak.
3.      Cokelat meningkatkan suasana hati
Cokelat mengandung phenethylamine, yang memicu pelepasan endorfin. Reaksi ini mirip dengan pengalaman jatuh cinta. Dokter di Inggris pasangan yang mengonsumsi cokelat mengalami kesenangan dua kali lipat saat berciuman ketimbang mereka yang tidak mengonsumsi cokelat. Alasannya, cokelat mengandung gula dan kafein tinggi yang menghasilkan kalori tahan lama. Menikmati cokelat sekali-kali tentu mampu membuat Anda merasa lebih nyaman dan rileks. Sebab menikmati makanan adalah salah satu cara menjalani kehidupan yang menyenangkan. Jadi, ambil cokelat hitam Anda dan rasakan manfaatnya dalam memperbaiki suasana hati.

4.      Cokelat membantu agar relaks
Selalu ngidam cokelat saat merasa stres? Ada alasan biologis untuk kebiasaan satu ini. Penelitian menunjukkan cokelat mengandung senyawa anandamide, yang mengaktifkan reseptor otak yang sama seperti efek ganja. Tidak heran, menggigit sebatang cokelat mampu meningkatkan kebahagiaan.

5.      Cokelat membuat awet muda
Sebuah studi di British Medical Journal menemukan, konsumsi cokelat dan permen memanjangkan umur hampir satu tahun daripada mereka yang menjauhkan diri dari hal-hal manis. Peserta yang makan permen 1-3 kali dalam sebulan memiliki tingkat kematian terendah.

6.      Menurunkan risiko stroke
Sebuah penelitian dari Swedia pada tahun 2011 lalu membuktikan bahwa mengonsumsi cokelat 45 gram sehari selama seminggu ampuh menurunkan risiko stroke sebesar 20 persen.

7.      Meningkatkan kesehatan jantung
Penggemar cokelat patut berbahagia. Pasalnya makan cokelat meningkatkan kesehatan jantung, seperti menurunkan tekanan darah, kadar kolesterol jahat, dan risiko serangan jantung. Selain itu, cokelat hitam juga merupakan agen inflamasi yang menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

8.      Memerangi diabetes
Sebuah penelitian dalam skala kecil pada tahun 2005 menyebutkan makan cokelat secara rutin mampu meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga risiko terserang diabetes akan menurun.

9.      Melindungi kulit
Manfaat kesehatan berikutnya dari makan cokelat adalah melindungi kulit dari sinar matahari karena ada senyawa flavonoid dalam cokelat yang merupakan antioksidan yang memerangi radikal bebas. Tetapi Anda tetap harus mengoleskan tabir surya jika ingin berjemur.

10.  Meredakan batuk
Tidak bisa berhenti batuk? Bahan dalam cokelat bernama theobromine mampu membantu Anda meredakan batuk yang dialami. Senyawa tersebut tepatnya mengurangi aktivitas pada saraf di otak yang memicu batuk.

11.  Melancarkan peredaran darah
Cokelat bersifat anti penggumpalan darah yang bekerja seperti aspirin. Sehingga makan cokelat akan melancarkan peredaran dan sirkulasi darah dalam tubuh.

12.  Meningkatkan penglihatan
Karena cokelat ampuh melancarkan peredaran darah, khususnya di sekitar otak, penelitian dari University of Reading menduga bahwa cokelat juga mungkin meningkatkan aliran darah ke daerah retina. Sehingga penglihatan Anda akan lebih baik berkat rajin makan cokelat hitam.

Hal ini kemungkinan disebabkan adanya antioksidan dalam cokelat. Sebuah studi pada 2009 menemukan, pasien serangan jantung yang makan cokelat berisiko meninggal lebih kecil ketimbang mereka yang tidak mengasup cokelat. (eh)[8]


Mau tulisan rapihnya..... klik disini  :) 


[1] Atkinson, Catherine, Mary Banks, Christine France, Christine McFadden (2010). The Chocolate and Coffee Bible. Hermes House. ISBN 978-1-84477-385-5.
[5] Tentang Hans Sloan (terakhir diakses pada 8 Juni 2007)
[7] http://kosmo.vivanews.com/news/read/246744-lima-manfaat-cokelat-bagi-kesehatan
[8] http://www.merdeka.com/sehat/10-manfaat-kesehatan-makan-cokelat-hitam.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar